Modernisme, yah .. sedikit membicarakan modernisasi menurut pandangan pribadi. OK, Modernisasi itu merupakan bentuk struktur sosial yang penting di Era Globalisasi. Secara umum masyarakat bisa dikatakan modern apabila mereka bisa menerima hal-hal baru dan hidup dengan High-Technology (Hi-Tec). Perlu diketahui modernisasi bukanlah melulu tentang hal baru dan Hi-Tec, tetapi modernisasi adalah suatu sikap bagaimana individu bisa lebih menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi pada masa depan daripada masa lalu.
Lihat saja sekarang, sudah dapat kita amati gejala-gejala modernisasi pada masyarakat Indonesia yang sudah tumbuh seperti semakin tergusurnya budaya-budaya warisan nenek moyang oleh masuknya budaya-budaya asing, sehingga budaya asli semakin pudar. Selain itu dari segi ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan masyarakatpun semakin kompleks sehingga terjadi pembangunan pada sektor industri besar-besaran.
Yah. .seperti yang
kita ketahui, setiap perubahan pastilah ada efek samping atau dampaknya. Salah
satunya efek samping dari modernisme adalah perilaku konsumtif pada masyarakat.
Sifat ini terkadang sangat berseberangan dengan persediaan barang, jasa, dan
kemampuan finansialnya. Untuk memenuhi perliaku konsumtif tersebut masyarakat
rela melakukan apapun demi mewujudkan hal yang di inginkanya. Perilaku ini juga
dapat menimbulkan efek lain yang sering disebutHedonisme.
Hedonisme ??
Perilaku seperti apa lagi itu ? OK, sedikit rekaman dari pelajaran sosiologi
yang ada, dapat dikatanHedonismeadalah suatuperilaku yang sangat mementingkan kesenangan
dan kemewahan duniawi saja tanpa menghiraukan larangan agama dan tatasusila.
Secara umum, Hedonisme
mungkin bisa disebut sebagai neokolonialisme dari bangsa baratyang ditujukan
pada kalangan remaja. Sepertinya taktik itu pun sukses. Remaja saat ini sangat
sangat menyukai akan kemewahan, foya-foya, minum alkohol, mengunakan
obat-obatan terlarang, begitu juga
dengan pergaulan bebas dan seakan hal itu sudah menjadi hal yang biasa.
Parahnya lagi, sekarang sudah banyak para remaja yang rela menjual kehormatanya
entah iru laki-laki ataupun perempuan hanya demi uang recehan untuk memenuhi
segala kepuasan yang inginkan. Generasi kini begitu mengerikan seakan tanpa
sadar mereka kembali pada zaman kemunduran (jahiliyah).
Sudah jelas, konsep yang
dikemukakan itu hanya mementingkan kepuasan nafsu tanpa batasan tertentu, terutama
ajaran agama yang terlihat semu. Hal ini juga didorong atas kegagalan dalam
memahami konteks agama dan iman yang lemah, sehingga mereka tidak dapat
menyeimbangkan antara nafsu dan rasio demi kemewahan. Semua sudah jelas jika
generasi ini semakin melemah.
Lalu, Siapa yang akan
memperbaiki semua ini ? Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini ? Bagaimana
menghadapi semua ini ? Jawabanya adalah
SEMUA PIHAK dan tentunya DIRI KITA SENDIRI.
1.
Untuk orang tua, mereka
harus menanamkan dan menekankna nilai-nilai agamis sejak dini, tidak hanya
sebagai teori tapi langsung pada praktisi.
2.
Untuk diri sendiri, mereka
harus bisa membatasi dan menyadari aturan-aturan jelas yang mana harus dijauhi
dan mana yang harus didekati sesuai dengan norma dan agama.
3.
Dan untuk lembaga
Pendidikan, mereka harus benar-benar dapat menarik dan meyakinkan para
pesertadidiknya jika semua kurikulum agama yang dimasukkan saat ini tidak
semata hanya untuk mencari nilai, tapi untuk menjadikan generasi yang lebih
berkualitas dari segi spiritual, intelektual, emosional, sosial dan kinestetik
atau kekuatan fisik.
GENERASI
YANG BAIK BERAWAL DARI MORAL YANG BAIK !

0 komentar:
Posting Komentar