Pages

Jumat, 03 Januari 2014

Goyahnya Generasi Akibat Modernisme


Modernisme, yah .. sedikit membicarakan modernisasi menurut pandangan pribadi. OK, Modernisasi  itu merupakan bentuk struktur sosial yang penting di Era Globalisasi. Secara umum masyarakat bisa dikatakan modern apabila mereka bisa menerima hal-hal baru dan hidup dengan High-Technology (Hi-Tec). Perlu diketahui modernisasi bukanlah melulu tentang hal baru dan Hi-Tec, tetapi modernisasi adalah suatu sikap bagaimana individu bisa lebih menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi pada masa depan daripada masa lalu.

Lihat saja sekarang, sudah dapat kita amati gejala-gejala modernisasi pada masyarakat Indonesia yang sudah tumbuh seperti semakin tergusurnya budaya-budaya warisan nenek moyang oleh masuknya budaya-budaya asing, sehingga budaya asli semakin pudar. Selain itu dari segi ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan masyarakatpun semakin kompleks sehingga terjadi pembangunan pada sektor industri besar-besaran.
Yah. .seperti yang kita ketahui, setiap perubahan pastilah ada efek samping atau dampaknya. Salah satunya efek samping dari modernisme adalah perilaku konsumtif pada masyarakat. Sifat ini terkadang sangat berseberangan dengan persediaan barang, jasa, dan kemampuan finansialnya. Untuk memenuhi perliaku konsumtif tersebut masyarakat rela melakukan apapun demi mewujudkan hal yang di inginkanya. Perilaku ini juga dapat menimbulkan efek lain yang sering disebutHedonisme.
Hedonisme ?? Perilaku seperti apa lagi itu ? OK, sedikit rekaman dari pelajaran sosiologi yang ada, dapat dikatanHedonismeadalah suatuperilaku yang sangat mementingkan kesenangan dan kemewahan duniawi saja tanpa menghiraukan larangan agama dan tatasusila.
Secara umum, Hedonisme mungkin bisa disebut sebagai neokolonialisme dari bangsa baratyang ditujukan pada kalangan remaja. Sepertinya taktik itu pun sukses. Remaja saat ini sangat sangat menyukai akan kemewahan, foya-foya, minum alkohol, mengunakan obat-obatan terlarang,  begitu juga dengan pergaulan bebas dan seakan hal itu sudah menjadi hal yang biasa. Parahnya lagi, sekarang sudah banyak para remaja yang rela menjual kehormatanya entah iru laki-laki ataupun perempuan hanya demi uang recehan untuk memenuhi segala kepuasan yang inginkan. Generasi kini begitu mengerikan seakan tanpa sadar mereka kembali pada zaman kemunduran (jahiliyah).
Sudah jelas, konsep yang dikemukakan itu hanya mementingkan kepuasan nafsu tanpa batasan tertentu, terutama ajaran agama yang terlihat semu. Hal ini juga didorong atas kegagalan dalam memahami konteks agama dan iman yang lemah, sehingga mereka tidak dapat menyeimbangkan antara nafsu dan rasio demi kemewahan. Semua sudah jelas jika generasi ini semakin melemah. 
Lalu, Siapa yang akan memperbaiki semua ini ? Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini ? Bagaimana menghadapi semua ini ?  Jawabanya adalah SEMUA PIHAK dan tentunya DIRI KITA SENDIRI.
1.       Untuk orang tua, mereka harus menanamkan dan menekankna nilai-nilai agamis sejak dini, tidak hanya sebagai teori tapi langsung pada praktisi.
2.       Untuk diri sendiri, mereka harus bisa membatasi dan menyadari aturan-aturan jelas yang mana harus dijauhi dan mana yang harus didekati sesuai dengan norma dan agama.
3.       Dan untuk lembaga Pendidikan, mereka harus benar-benar dapat menarik dan meyakinkan para pesertadidiknya jika semua kurikulum agama yang dimasukkan saat ini tidak semata hanya untuk mencari nilai, tapi untuk menjadikan generasi yang lebih berkualitas dari segi spiritual, intelektual, emosional, sosial dan kinestetik atau kekuatan fisik.

GENERASI YANG BAIK BERAWAL DARI MORAL YANG BAIK !

0 komentar:

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "